<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Alwatunia's Weblog</title>
	<atom:link href="http://alwatunia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alwatunia.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 22 Feb 2008 00:37:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alwatunia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Alwatunia's Weblog</title>
		<link>http://alwatunia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alwatunia.wordpress.com/osd.xml" title="Alwatunia&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alwatunia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Muhammad Bin Ismail Al Bukhori, Imam Ahlul Hadits yang Ditinggalkan Umatnya</title>
		<link>http://alwatunia.wordpress.com/2008/02/21/muhammad-bin-ismail-al-bukhori-imam-ahlul-hadits-yang-ditinggalkan-umatnya/</link>
		<comments>http://alwatunia.wordpress.com/2008/02/21/muhammad-bin-ismail-al-bukhori-imam-ahlul-hadits-yang-ditinggalkan-umatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 01:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alwatunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwatunia.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Negeri Bukhara sebagai negeri muara sungai Jihun yang terletak di sebelah utara Afghanistan dan sebelah selatan Ukraina adalah negeri yang banyak melahirkan imam-imam Ahlul hadits dan Ahlul fiqh. Negeri itu menyimpan kenangan sejarah perjuangan para imam-imam Muslimin dalam berbagai bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dapat disebutkan di sini, para Imam Ahlul Hadits yang lahir dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwatunia.wordpress.com&amp;blog=2920428&amp;post=4&amp;subd=alwatunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b><br />
</b></p>
<p align="justify">Negeri Bukhara sebagai negeri                                    muara sungai Jihun yang terletak di sebelah                                    utara Afghanistan dan sebelah selatan Ukraina                                    adalah negeri yang banyak melahirkan imam-imam                                    Ahlul hadits dan Ahlul fiqh. Negeri itu menyimpan                                    kenangan sejarah perjuangan para imam-imam Muslimin                                    dalam berbagai bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an                                    dan Al-Hadits. Dapat disebutkan di sini, para                                    Imam Ahlul Hadits yang lahir dan dibesarkan                                    di negeri Bukhara antara lain adalah: Al-Imam                                    Abdullah bin Muhammad Abu Ja’far Al-Musnadi                                    Al-Bukhari yang meninggal dunia di negeri tersebut                                    pada hari Kamis bulan Dzulqa’dah tahun                                    220 H. dan kemudian juga lahir di Bukhara, Abu                                    Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari                                    yang lahir pada tahun 194 Hijriyah dan wafat                                    pada tahun 256 H di sebuah desa bernama Khortanak                                    menuju arah Samarkan. Juga lahir dan dibesarkan                                    di negeri ini Al-Imam Abi Naser Ahmad bin Muhammad                                    bin Al-Husain Al-Kalabadzi Al-Bukhari yang lahir                                    tahun 323 H dan meninggal tahun 398 H. dan masih                                    banyak lagi deretan para imam-imam besar Ahli                                    hadits yang menghiasi indahnya sekarah negeri                                    Bukhara.</p>
<p>Tetapi di masa kini kaum Muslimin di dunia,                                    apabila disebut Imam Bukhari, maka yang dipahami                                    hanyalah Imam Ahlul Hadits dari negeri Bukhara                                    yang bernama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim                                    bin Bardizbah Al-Bukhari. Karena karya beliau                                    yang amat masyhur di kalangan kaum Muslimin                                    di dunia ialah: Al-Jami’us Shahih Al-Musnad                                    min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi                                    yang kemudian terkenal dengan nama kitab Shahih                                    Al-Bukhari. Kata “Bukhari” itu sendiri                                    maknanya ialah: Orang dari negeri Bukhara. Jadi                                    kalau dikatakan “Imam Bukhari” maknanya                                    ialah seorang tokoh dari negeri Bukhara.</p>
<p><b>AL-BUKHARI DI MASA KECIL</b><br />
Nasab kelengkapan dari tokoh yang sedang kita                                    bincangkan ini adalah sebagai berikut: Muhammad                                    bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah.                                    Kakek (Zoroaster) sebagai agama asli orang-orang                                    Persia yang menyembah api. Sang kakek tersebut                                    meninggal dalam keadaan masih beragama Majusi.                                    Putra dari Bardizbah yang bernama Al-Mughirah                                    kemudian masuk Islam di bawah bimbingan gubernur                                    negeri Bukhara Yaman Al-Ju’fi sehingga                                    Al-Mughirah dengan segenap anak cucunya dinisbatkan                                    kepada kabilah Al-Ju’fi. Dan ternyata                                    cucu dari Al-Mughirah ini di kemudian hari mengukir                                    sejarah yang agung, yaitu sebagai seorang Imam                                    Ahlul Hadits.</p>
<p>Al-Imam Al-Bukhari lahir pada hari Jum’at                                    tanggal 13 Syawal 194 H di negeri Bukhara di                                    tengah keluarganya yang cinta ilmu sunnah Nabi                                    Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Karena                                    ayah beliau bernama Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah                                    adalah seorang ulama Ahli hadits yang meriwayatkan                                    hadits-hadits Nabi dari Imam Malik bin Anas,                                    Hammad bin Zaid, dan sempat pula berpegang tangan                                    dengan Abdullah bin Mubarak. Riwayat-riwayat                                    Ismail bin Ibrahim tentang hadits Nabi tersebar                                    di kalangan orang-orang Iraq.</p>
<p>Ayah Al-Bukhari meninggal dunia ketika beliau                                    masih kecil. Di saat menjelang wafatnya, Ismail                                    bin Ibrahim sempat membesarkan hati anaknya                                    yang masih kecil sembari menyatakan kepadanya:                                    “Aku tidak mendapati pada hartaku satu                                    dirham pun dari harta yang haram atau satu dirham                                    pun dari harta yang syubhat.” Tentu anak                                    yang ditumbuhkan dari harta yang bersih dari                                    perkara haram atau syubhat akan lebih baik dan                                    mudah dididik kepada yang baik. Sehingga sejak                                    wafatnya sang ayah, Al-Bukhari hidup sebagai                                    anak yatim dalam dekapan kasih sayang ibunya.</p>
<p>Muhammad bin Ismail mendapat perhatian penuh                                    dari ibunya. Sejak usianya yang masih muda dia                                    telah hafal Al-Qur’an dan tentunya belajar                                    membaca dan menulis. Kemudian pada usia sepuluh                                    tahun, Muhammad kecil mulai bersemangat mendatangi                                    majelis-majelis ilmu hadits yang tersebar di                                    berbagai tempat di negeri Bukhara. Pada usia                                    sebelas tahun, dia sudah mampu menegur seorang                                    guru ilmu hadits yang salah dalam menyampaikan                                    urut-urutan periwayatan hadits (yang disebut                                    sanad). Usia kanak-kanak beliau dihabiskan dalam                                    kegiatan menghafal ilmu dan memahaminya sehingga                                    ketika menginjak usia remaja &#8211;enam belas tahun&#8211;,                                    beliau telah hafal kitab-kitab karya imam-imam                                    Ahli hadits dari kalangan tabi’it tabi’in                                    (generasi ketiga umat Islam), seperti karya                                    Abdullah bin Al-Mubarak, Waqi’ bin Al-Jarrah,                                    dan memahami betul kitab-kitab tersebut.</p>
<p>Usia kanak-kanak Muhammad bin Ismail telah                                    berlalu dengan agenda belajar yang amat padat.                                    Kesibukannya di masa kanak-kanak dalam menghafal                                    dan memahami ilmu, mengantarkannya kepada masa                                    remaja yang cemerlang dan menakjubkan. Kini                                    ia menjadi remaja yang amat diperhitungkan orang                                    di majelis manapun dia hadir. Karena dalam usia                                    belasan tahun seperti ini dia telah hafal di                                    luar kepala tujupuluh ribu hadits lengkap dengan                                    sanadnya di samping tentunya Al-Qur’an                                    tiga puluh juz.</p>
<p><b>MELANGLANG BUANA MENUNTUT ILMU</b><br />
Di awal usianya yang ke delapan belas, Al-Bukhari                                    diajak ibunya bersama kakaknya bernama Ahmad                                    bin Ismail berangkat ke Makkah untuk menunaikan                                    ibadah haji. Perjalanan jauh antara negeri Bukhara                                    dengan Mekkah menunggang unta, keledai dan kuda                                    adalah pengalaman baru baginya. Sehingga dia                                    terbiasa dengan berbagai kesengsaraan perjalanan                                    jauh mengarungi padang pasir, gunung-gunung                                    dan lembahnya yang penuh keganasan alam. Dalam                                    kondisi yang demikian, dia merasa semakin dekat                                    kepada Allah dan dia benar-benar menikmati perjalanan                                    yang memakan waktu berbulan-bulan itu. Sesampainya                                    di Makkah, Al-Bukhari mendapati kota Makkah                                    penuh dengan ulama Ahli Hadits yang membuka                                    halaqah-halaqah ilmu. Tentu yang demikian ini                                    semakin menggembirakan beliau. Oleh karena itu,                                    setelah selsai pelaksanaan ibadah haji, beliau                                    tetap tinggal di Makkah sementara kakak kandungnya                                    kembali ke Bukhara bersama ibunya. Beliau bolak-balik                                    antara Makkah dan Madinah, kemudian akhirnya                                    mulai menulis biografi para tokoh. Sehingga                                    lahirlah untuk pertama kalinya karya beliau                                    dalam bidang ilmu hadits yang berjudul Kitabut                                    Tarikh. Ketika kitab karya beliau ini mulai                                    tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam, ramailah                                    pembicaraan orang tentang tokoh ilmu hadits                                    tersebut dan semua orang amat mengaguminya.                                    Sampai-sampai seorang Imam Ahli Hadits di masa                                    itu yang bernama Ishaq bin Rahuyah membawa Kitabut                                    Tarikh karya Al-Bukhari ini ke hadapan gubernur                                    negeri Khurasan yang bernama Abdullah bin Thahir                                    Al-Khuza’i, sembari mengatakan: “Wahai                                    tuan gubernur, maukah aku tunjukkan kepadamu                                    atraksi sihir?” Kemudian ditunjukkan kepadanya                                    kitab ini. Maka gubernur pun membaca kitab tersebut                                    dan beliau sangat kagum dengannya. Sehingga                                    tuan gubernur pun mengatakan: “Aku tidak                                    mengerti bagaimana dia bisa mengarang kitab                                    ini.” Al-Imam Al-Bukhari pun akhirnya                                    menjadi amat terkenal di berbagai negeri Islam.                                    Ketika Al-Imam Al-Bukhari berkeliling ke berbagai                                    negeri tersebut, beliau mendapati betapa para                                    ulama Ahlul Hadits di setiap negeri tersebut                                    sangat menghormatinya. Beliau berkeliling ke                                    berbagai negeri pusat-pusat ilmu hadits seperti                                    Mesir, Syam, Baghdad (Iraq), Bashrah, Kufah                                    dan lain-lainnya.</p>
<p>Di saat berkeliling ke berbagai negeri itu,                                    beliau suatu hari duduk di majlisnya Ishaq bin                                    Rahuyah. Di sana ada satu saran dari hadirin                                    untuk kiranya ada upaya mengumpulkan hadits-hadits                                    Nabi dalam satu kitab. Dengan usul ini mulailah                                    Al-Imam Al-Bukhari menulis kitab shahihnya dan                                    kitab tersebut baru selesai dalam tempo enam                                    belas tahun sesudah itu. Beliau menuliskan dalam                                    kitab ini hadits-hadits yang diyakini shahih                                    oleh beliau setelah menyaring dan meneliti enam                                    ratus ribu hadits. Beliau pilih daripadanya                                    tujuh ribu dua ratus tujupuluh lima hadits shahih                                    dan seluruhnya dikumpulkan dalam satu kitab                                    dengan judul Al-Jami’us Shahih Al-Musnad                                    min Haditsi Rasulillah wa Sunani wa Ayyamihi                                    yang kemudian terkenal dengan nama kitab Shahih                                    Al-Bukhari. Kitab ini pun mendapat pujian dan                                    sanjungan dari berbagai pihak di seantero negeri-negeri                                    Islam. Sehingga ketokohan beliau dalam ilmu                                    hadits semakin diakui kalangan luas dunia Islam.                                    Para imam-imam Ahli Hadits sangat memuliakannya,                                    seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ali bin Al-Madini,                                    Yahya bin Ma`in dan lain-lainnya.</p>
<p><b>IMAM AL-BUKHARI DISANJUNG DI MANA-MANA</b><br />
Karya-karya beliau dalam bidang hadits terus                                    mengalir dan beredar di dunia Islam. Kepiawaian                                    beliau dalam menyampaikan keterangan tentang                                    berbagai kepelikan di seputar ilmu hadits di                                    berbagai majelis-majelis ilmu bersinar cemerlang                                    sehingga beliau dipuji dan diakui keilmuannya                                    oleh para gurunya dan para ulama yang setara                                    ilmunya dengan beliau, lebih-lebih lagi oleh                                    para muridnya. Beliau menimba ilmu dari seribu                                    lebih ulama dan semua mereka selalu mempunyai                                    kesan yang baik, bahkan kagum terhadap beliau.</p>
<p>Al-Imam Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf bin Al-Mizzi                                    meriwayatkan dalam kitabnya yang berjudul Tahdzibul                                    Kamal fi Asma’ir Rijal beberapa riwayat                                    pujian para ulama Ahli hadits dan sanjungan                                    mereka terhadap Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.                                    Di antara beberapa riwayat itu antara lain ialah                                    pernyataan Al-Imam Mahmud bin An-Nadhir Abu                                    Sahl Asy-Syafi’i yang menyatakan: “Aku                                    masuk ke berbagai negeri yaitu Basrah, Syam,                                    Hijaz dan Kufah. Aku melihat di berbagai negeri                                    tersebut bahwa para ulamanya bila menyebutkan                                    Muhammad bin Ismail Al-Bukhari selalu mereka                                    lebih mengutamakannya daripada diri-diri mereka.”</p>
<p>Karena itu majelis-majelis ilmu Al-Imam Al-Bukhari                                    selalu dijejali ribuan para penuntut ilmu. Dan                                    bila beliau memasuki suatu negeri, puluhan ribu                                    bahkan ratusan ribu kaum Muslimin menyambutnya                                    di perbatasan kota karena beberapa hari sebelum                                    kedatangan beliau, telah tersebar berita akan                                    datangnya Imam Ahlul Hadits, sehingga kaum Muslimin                                    pun berjejal-jejal berdiri di pinggir jalan                                    yang akan dilewati beliau hanya untuk sekedar                                    melihat wajah beliau atau kalau bernasib baik,                                    kiranya dapat bersalaman dengan beliau.</p>
<p>Al-Imam Muhammad bin Abi Hatim meriwayatkan                                    bahwa Hasyid bin Ismail dan seorang lagi (tidak                                    disebutkan namanya), keduanya menceritakan:                                    “Para ulama Ahli Hadits di Bashrah di                                    jaman Al-Bukhari masih hidup merasa lebih rendah                                    pengetahuannya dalam hadits dibanding Al-Imam                                    Al-Bukhari. Padahal beliau ini masih muda belia.                                    Sehingga pernah ketika beliau berjalan di kota                                    Bashrah, beliau dikerumuni para penuntut ilmu.                                    Akhirnya beliau dipaksa duduk di pinggir jalan                                    dan dikerumuni ribuan orang yang menanyakan                                    kepada beliau berbagai masalah agama. Padahal                                    wajah beliau masih belum tumbuh rambut pada                                    dagunya dan juga belum tumbuh kumis.”</p>
<p><b>DATANGLAH BADAI MENGHEMPAS</b><br />
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dielu-elukan                                    dan disanjung orang di mana-mana. Pujian penuh                                    ketakjuban datang dari segala penjuru negeri,                                    dan beliau dijadikan rujukan para ulama di masa                                    muda belia. Di saat penuh kesibukan ibadah dan                                    ilmu yang menghiasi detik-detik kehidupan Al-Bukhari,                                    pada sebagian orang muncul iri dengki terhadap                                    berbagai kemuliaan yang Allah limpahkan kepadanya.</p>
<p>Badai itu bermula dari kedatangan beliau pada                                    suatu hari di negeri Naisabur dalam rangka menimba                                    ilmu dari para imam-imam Ahli Hadits di sana.                                    Kedatangan beliau ke negeri tersebut bukanlah                                    untuk pertama kalinya. Beliau sebelumnya sudah                                    berkali-kali berkunjung ke sana karena Nasaibur                                    termasuk salah satu pusat markas ilmu sunnah.                                    Lagi pula di sana terdapat guru beliau, seorang                                    Ahli Hadits yang bernama Muhammad bin Yahya                                    Adz-Dzuhli. Pada suatu hari tersebarlah berita                                    gembira di Naisabur bahwa Muhammad bin Ismail                                    Al-Bukhari akan datang ke negeri tersebut untuk                                    tinggal padanya beberapa lama. Bahkan Al-Imam                                    Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli mengumumkan secara                                    khusus di majelis ilmunya dengan menyatakan:                                    “Barangsiapa ingin menyambut Muhammad                                    bin Ismail besok, silakan menyambutnya karena                                    aku akan menyambutnya.” Maka masyarakat                                    luas pun bergerak mengadakan persiapan untuk                                    menyambut kedatangan Imam besar Ahli Hadits                                    di kota mereka.</p>
<p>Di hari kedatangan Imam Al-Bukhari itu, ribuan                                    penduduk Naisabur bergerombol di pinggir kota                                    untuk menyambutnya. Di antara yang berkerumun                                    menunggu kedatangan beliau itu ialah Al-Imam                                    Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli bersama para ulama                                    lainnya. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ya’qub                                    Al-Akhram bahwa ketika Al-Bukhari sampai di                                    pintu kota Naisabur, yang menyambutnya sebanyak                                    empat ribu orang berkuda, di samping yang menunggang                                    keledai dan himar serta ribuan pula yang berjalan                                    kaki.”</p>
<p>Imam Muslim bin Al-Hajjaj menceritakan: “Ketika                                    Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, semua                                    pejabat pemerintah dan semua ulama menyambutnya                                    di batas negeri.”<br />
Ketika Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari                                    sampai di Naisabur, para penduduk menyambutnya                                    dengan penyambutan yang demikian besar dan agung.                                    Beribu-ribu orang berkerumun di tempat tinggal                                    beliau setiap harinya untuk menanyakan kepada                                    beliau berbagai masalah agama dan khususnya                                    berbagai kepelikan tentang hadits. Akibatnya                                    berbagai majelis ilmu para ulama yang lainnya                                    menjadi sepi pengunjung. Dari sebab ini mungkin                                    timbul ketidakenakan di hati sebagian ulama                                    itu terhadap Al-Bukhari.</p>
<p>Di hari ketiga kunjungan beliau ke Naisabur,                                    terjadilah peristiwa yang amat disesalkan itu.                                    Diceritakan oleh Ahmad bin Adi peristiwa itu                                    terjadi sebagai berikut:<br />
Telah menceritakan kepadaku sekelompok ulama                                    bahwa ketika Muhammad bin Ismail sampai ke negeri                                    Naisabur dan orang-orang pun berkumpul mengerumuninya,                                    maka timbullah kedengkian padanya dari sebagian                                    ulama yang ada pada waktu itu. Sehingga mulailah                                    diberitakan kepada para ulama Ahli hadits bahwa                                    Muhammad bin Ismail berpendapat bahwa lafadh                                    beliau ketika membaca Al-Qur’an adalah                                    makhluk. Pada suatu majelis ilmu, ada seseorang                                    berdiri dan bertanya kepada beliau: “Wahai                                    Abu Abdillah (yakni Al-Bukhari), apa pendapatmu                                    tentang orang yang menyatakan bahwa lafadhku                                    ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk?                                    Apakah memang demikian atau lafadh orang yang                                    membaca Al-Qur’an itu bukan makhluk?”</p>
<p>Mendengar pertanyaan itu, beliau berpaling                                    karena tidak mau menjawabnya. Akan tetapi si                                    penanya mengulang-ulang terus pertanyaannya                                    hingga sampai ketiga kalinya seraya memohon                                    dengan sangat agar beliau menjawabnya. Al-Bukhari                                    pun akhirnya menjawab dengan mengatakan: “Al-Qur’an                                    kalamullah (perkataan Allah) dan bukan makhluk.                                    Sedangkan perbuatan hamba Allah adalah makhluk,                                    dan menguji orang dalam masalah ini adalah perbuatan                                    bid’ah.”</p>
<p>Dengan jawaban beliau ini, si penanya membikin                                    ricuh di majelis dan mengatakan tentang Al-Bukhari:                                    “Dia telah menyatakan bahwa lafadhku ketika                                    membaca Al-Qur’an adalah makhluk.”                                    Akibatnya orang-orang di majelis itu menjadi                                    ricuh dan mereka pun segera membubarkan diri                                    dari majelis itu dan meninggalkan beliau sendirian.                                    Sejak itu Al-Bukhari duduk di tempat tinggalnya                                    dan orang-orang pun tidak lagi mau datang kepada                                    beliau.”</p>
<p>Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Ahmad                                    bin Muhammad bin Ghalib dengan sanadnya dari                                    Muhammad bin Khasynam menceritakan: “Setelah                                    orang meninggalkan Al-Bukhari, orang-orang yang                                    meninggalkan beliau itu sempat datang kepada                                    beliau dan mengatakan: “Engkau mencabut                                    pernyataanmu agar kami kembali belajar di majelismu.”                                    Beliau menjawab: “saya tidak akan mencabut                                    pernyataan saya kecuali bila mereka yang meninggalkanku                                    menunjukkan hujjah (argumentasi) yang lebih                                    kuat dari hujjahku.”</p>
<p>Kata Muhammad bin Khasynam: “Sungguh                                    aku amat kagum dengan tegarnya dan kokohnya                                    Al-Bukhari dalam berpegang dengan pendirian.”</p>
<p>Kaum Muslimin di Naisabur gempar dengan kejadian                                    ini dan akhirnya arus fitnah melibatkan pula                                    Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli sehingga                                    beliau menyatakan di majelis ilmu beliau yang                                    kini telah ramai kembali setelah orang meninggalkan                                    majelis Al-Bukhari: “Ketahuilah, sesungguhnya                                    siapa saja yang masih mendatangi majelis Al-Bukhari,                                    dilarang datang ke majelis kita ini. Karena                                    orang-orang di Baghdad telah memberitakan melalui                                    surat kepada kami bahwa orang ini (yakni Al-Bukhari)                                    mengatakan bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an                                    adalah makhluk. Kata mereka yang ada di Baghdad                                    bahwa Al-Bukhari telah dinasehati untuk jangan                                    berkata demikian, tetapi dia terus mengatakan                                    demikian. Oleh karena itu, jangan ada yang mendekatinya                                    dan barangsiapa mendekatinya maka janganlah                                    mendekati kami.”</p>
<p>Tentu saja dengan telah terlibatnya Imam Adz-Dzuhli,                                    fitnah semakin meluas. Hal ini terjadi karena                                    Adz-Dzuhli adalah imam yang sangat berpengaruh                                    di seluruh wilayah Khurasan yang beribukota                                    di Naisabur itu. Bahkan lebih lanjut Al-Imam                                    Adz-Dzuhli menegaskan: “Al-Qur’an                                    adalah kalamullah (yakni firman Allah) dan bukan                                    makhluk dari segala sisinya dan dari segala                                    keadaan. Maka barangsiapa yang berpegang dengan                                    prinsip ini, sungguh dia tidak ada keperluan                                    lagi untuk berbicara tentang lafadhnya ketika                                    membaca Al-Qur’an atau omongan yang serupa                                    ini tentang Al-Qur’an. Barangsiapa yang                                    menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk,                                    maka sungguh dia telah kafir dan keluar dari                                    iman, dan harus dipisahkan dari istrinya serta                                    dituntut untuk taubat dari ucapan yang demikian.                                    Bila dia mau taubat maka diterima taubatnya.                                    Tetapi bila tidak mau taubat, harus dipenggal                                    lehernya dan hartanya menjadi rampasan Muslimin                                    serta tidak boleh dikubur di pekuburan kaum                                    Muslimin. Dan barangsiapa yang bersikap abstain                                    dengan tidak menyatakan Al-Qur’an sebagai                                    makhluk dan tidak pula menyatakan Al-Qur’an                                    bukan makhluk, maka sungguh dia telah menyerupai                                    orang-orang kafir. Barangsiapa yang menyatakan                                    “lafadhku ketika membaca Al-Qur’an                                    adalah makhluk”, maka sungguh dia adalah                                    Ahli Bid’ah (yakni orang yang sesat).                                    Tidak boleh duduk bercengkrama dengannya dan                                    tidak boleh diajak bicara. Oleh karena itu,                                    barangsiapa setelah penjelasan ini masih saja                                    mendatangi tempatnya Al-Bukhari, maka curigailah                                    ia karena tidaklah ada orang yang tetap duduk                                    di majelisnya kecuali dia semadzhab dengannya                                    dalam kesesatannya.”</p>
<p>Dengan pernyataan Adz-Dzuhli seperti ini,                                    berdirilah dari majelis itu Imam Muslim bin                                    Hajjaj dan Ahmad bin Salamah. Bahkan Imam Muslim                                    mengirimkan kembali kepada Adz-Dzuhli seluruh                                    catatan riwayat hadits yang didapatkannya dari                                    Imam Adz-Dzuhli, sehingga dalam Shahih Muslim                                    tidak ada riwayat Adz-Dzuhli dari berbagai sanad                                    yang ada padanya.<br />
Sikap Imam Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah                                    yang seperti itu menyebabkan Adz-Dzuhli semakin                                    marah sehingga beliau pun menyatakan: “Orang                                    ini (yakni Al-Bukhari) tidak boleh bertempat                                    tinggal di negeri ini bersama aku.”</p>
<p>Kemarahan Adz-Dzuhli seperti ini sangat menggusarkan                                    Ahmad bin Salamah, salah seorang pembela Al-Bukhari.                                    Dia segera mendatangi Al-Bukhari seraya mengatakan:                                    “Wahai Abu Abdillah (yakni Al-Bukhari),                                    orang ini (yakni Adz-Dzuhli) sangat berpengaruh                                    di Khurasan, khususnya di kota ini (yakni kota                                    Naisabur). Dia telah terlalu jauh dalam berbicara                                    tentang perkara ini sehingga tak seorang pun                                    dari kami bisa menasehatinya dalam perkara ini.                                    Maka bagaimana pendapatmu?”</p>
<p>Al-Imam Al-Bukhari amat paham kegusaran muridnya                                    ini sehingga dengan penuh kasih sayang beliau                                    memegang jenggot Ahmad bin Salamah dan membaca                                    surat Ghafir 44 yang artinya: “Dan aku                                    serahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya                                    Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” Kemudian                                    beliau menunduk sambil berkata: “YA Allah,                                    sungguh Engkau tahu bahwa aku tinggal di Naisabur                                    tidaklah bertujuan jahat dan tidak pula bertujuan                                    dengan kejelekan. Engkau juga mengetahui ya                                    Allah, bahwa aku tidak mempunyai ambisi untuk                                    memimpin. Hanyasaja karena aku terpaksa pulang                                    ke negeriku karena para penentangku telah menguasai                                    keadaan. Dan sungguh orang ini (yakni Adz-Dzuhli)                                    membidikku semata-mata karena hasad (dengki)                                    terhadap apa yang Allah telah berikan kepadaku                                    daripada ilmu.” Wajah beliau sendu menyimpan                                    kekecewaan yang mendalam. Dan dia menatap Ahmad                                    bin Salamah dengan mantap sambil berkata: “wahai                                    Ahmad, aku akan meninggalkan Naisabur besok                                    agar kalian terlepas dari berbagai problem akibat                                    omongannya (yakni omongan Adz-Dzuhli) karena                                    sebab keberadaanku.” Segera setelah itu                                    Al-Bukhari berkemas-kemas untuk mempersiapkan                                    keberangkatannya besok kembali ke negeri Bukhara.</p>
<p>Rencana Al-Bukhari untuk pulang ke negeri                                    Bukhara sempat diberitakan oleh Ahmad bin Salamah                                    kepada segenap kaum Muslimin di Naisabur, tetapi                                    mereka tidak ada yang berselera untuk melepasnya                                    di batas kota. Sehingga Al-Imam Al-Bukhari dilepas                                    kepulangannya oleh Ahmad bin Salamah saja dan                                    beliau berjalan sendirian menempuh jalan darat                                    yang jauh menuju negerinya yaitu Bukhara. “Selamat                                    tinggal Naisabur, rasanya tidak mungkin lagi                                    aku berjumpa denganmu.”</p>
<p><b>BADAI DI NEGERI BUKHARA</b><br />
Di negeri Bukhara telah tersebar berita bahwa                                    Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari sedang menuju                                    Bukhara. Penduduk Bukhara melakukan berbagai                                    persiapan untuk menyambutnya di pintu kota.                                    Bahkan diceritakan oleh Ahmad bin Mansur Asy-Syirazi                                    bahwa dia mendengar dari berbagai orang yang                                    menyaksikan peristiwa penyambutan Al-Bukhari                                    di negeri Bukhara, dikatakan bahwa masyarakat                                    membangun gapura penyambutan di tempat yang                                    berjarak satu farsakh (kurang lebih 5 km) sebelum                                    masuk kota Bukhara. Dan ketika Al-Imam Muhammad                                    bin Ismail Al-Bukhari telah sampai di gapura                                    “selamat datang” tersebut, beliau                                    mendapati hampir seluruh penduduk negeri Bukhara                                    menyambutnya dengan penuh suka cita, sampai-sampai                                    disebutkan bahwa penduduk melemparkan kepingan                                    emas dan perak di jalan yang akan diinjak oleh                                    telapak kaki Al-Bukhari. Mereka berdiri di kedua                                    sisi jalan masuk kota Bukhara sambil berebut                                    memberikan buah anggur yang istimewa kepada                                    sang Imam Ahlul Hadits yang amat mereka cintai                                    itu.</p>
<p>Tetapi suka cita penduduk negeri Bukhara ini                                    tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah                                    itu para ahli fikih mulai resah dengan beberapa                                    perubahan pada cara beribadah orang-orang Bukhara.                                    Yang berlaku di negeri tersebut adalah madzhab                                    Hanafi, sedangkan Al-Bukhari mengajarkan hadits                                    sesuai dengan pengertian Ahli Hadits yang tidak                                    terikat dengan madzhab tertentu sehingga yang                                    nampak pada masyarakat ialah sikap-sikap yang                                    diajarkan oleh Ahli Hadits, dan bukan pengamalan                                    madzhab Hanafi. Orang dalam beriqamat untuk                                    shalat jamaah tidak lagi menggenapkan bacaan                                    qamat seperti adzan, tetapi membaca qamat dengan                                    satu-satu sebagaimana yang ada dalam hadits-hadits                                    shahih. Ketika bertakbir dalam shalat semula                                    tidak mengangkat tangan sebagaimana madzhab                                    Hanafi, sekarang mereka bertakbir dengan mengangkat                                    tangan.</p>
<p>Dengan berbagai perubahan ini keresahan para                                    ulama fiqih tambah menjadi-jadi sehingga tokoh                                    ulama fiqih di negeri tersebut yang bernama                                    Huraits bin Abi Wuraiqa’ menyatakan tentang                                    Al-Imam Al-Bukhari: “Orang ini pengacau.                                    Dia akan merusakkan kehidupan keagamaan di kota                                    ini. Muhammad bin yahya telah mengusir dia dari                                    Naisabur, padahal dia imam Ahli Hadits.”</p>
<p>Maka Huraits dan kawan-kawannya mulai berusaha                                    untuk mempengaruhi gubernur Bukhara agar mengusir                                    Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari ini.                                    Gubernur negeri ini yang bernama Khalid bin                                    Ahmad As-Sadusi Adz-Dzuhli.</p>
<p>Gubernur Khalid pernah meminta Al-Bukhari untuk                                    datang ke istananya guna mengajarkan kitab At-Tarikh                                    dan Shahih Al-Bukhari bagi anak-anaknya. Tetapi                                    Al-Imam Al-Bukhari menolak permintaan gubernur                                    tersebut dengan mengatakan: “Aku tidak                                    akan menghinakan ilmu ini dan aku tidak akan                                    membawa ilmu ini dari pintu ke pintu. Oleh karena                                    itu bila anda memerlukan ilmu ini, maka hendaknya                                    anda datang saja ke masjidku, atau ke rumahku.                                    Bila sikapku yang demikian ini tidak menyenangkanmu,                                    engkau adalah penguasa. Silakan engkau melarang                                    aku untuk membuka majelis ilmu ini agar aku                                    punya alasan di sisi Allah di hari kiamat bahwa                                    aku tidaklah menyembunyikan ilmu (tetapi dilarang                                    oleh penguasa untuk menyampaikannya).”                                    Tentu gubernur Khalid dengan jawaban ini sangat                                    kecewa. Maka berkumpullah padanya penghasutan                                    Huraits bin Abil Wuraqa’ dan kawan-kawan                                    serta kekecewaan pribadi gubernur ini. Huraits                                    dan gubernur Khalid akhirnya sepakat untuk membikin                                    rencana mengusir Muhammad bin Ismail dari Bukhara.                                    Lebih-lebih lagi telah datang surat dari Al-Imam                                    Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur                                    kepada gubernur Khalid bin Ahmad As-Sadusi Adz-Dzuhli                                    di Bukhara yang memberitakan bahwa Al-Bukhari                                    telah menampakkan sikap menyelisihi sunnah Nabi                                    shallallahu `alaihi wa sallam. Dengan demikian                                    matanglah rencana pengusiran Al-Imam Muhammad                                    bin Ismail Al-Bukhari dari negeri Bukhara.</p>
<p>Upaya pengusiran itu bermula dengan dibacakannya                                    surat Muhammad bin yahya Adz-Dzuhli di hadapan                                    segenap penduduk Bukhara tentang tuduhan beliau                                    kepada Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari                                    bahwa beliau telah berbuat bid’ah dengan                                    mengatakan bahwa “lafadhku ketika membaca                                    Al-Qur’an adalah makhluk”. Tetapi                                    dengan pembacaan surat, penduduk Bukhara pada                                    umumnya tidak mau peduli dengan tuduhan tersebut                                    dan terus memuliakan Al-Imam Al-Bukhari. Namun                                    gubernur Khalid akhirnya mengusirnya dengan                                    paksa sehingga Al-Imam Al-Bukhari sangat kecewa                                    dengan perlakuan ini. Dan sebelum keluar dari                                    negeri Bukhara, beliau sempat mendoakan celaka                                    atas orang-orang yang terlibat langsung dengan                                    pengusirannya. Ibrahim bin Ma’qil An-Nasafi                                    menceritakan: “Aku melihat Muhammad bin                                    Ismail pada hari beliau diusir dari negeri Bukhara,                                    aku mendekat kepadanya dan aku bertanya kepadanya:                                    “Wahai Abu Abdillah, apa perasaanmu dengan                                    pengusiran ini?” Beliau menjawab: “Aku                                    tidak peduli selama agamaku selamat.”</p>
<p>Al-Bukhari meninggalkan Bukhara dengan penuh                                    kekecewaan dan dilepas penduduk Bukhara dengan                                    penuh kepiluan. Beliau berjalan menuju desa                                    Bikanda kemudian berjalan lagi ke desa Khartanka,                                    yang keduanya adalah desa-desa negeri Samarkan.                                    Di desa terakhir inilah beliau jatuh sakit dan                                    dirawat di rumah salah seorang kerabatnya penduduk                                    desa tersebut.</p>
<p>Dalam suasana hati yang terluka, tubuhnya yang                                    kurus kering di usia ke enampuluh dua tahun,                                    beliau berdoa mengadukan segala kepedihannya                                    kepada Allah Ta`ala: “Ya Allah, bumi serasa                                    sempit bagiku. Tolonglah ya Allah, Engkau panggil                                    aku keharibaan-Mu.” Dan sesaat setelah                                    itu ia pun menghembuskan nafas terakhir dan                                    selamat tinggal dunia yang penuh onak dan duri.</p>
<p><b>PEMBELAAN AL-BUKHARI</b><br />
Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari                                    mengakhiri hidupnya di desa Khartanka, Samarkan                                    pada malam Sabtu di malam hari Raya Fitri (Iedul                                    Fitri) 1 Syawsal 256 H. sebelum menghembuskan                                    nafas yang terakhir, beliau sempat berwasiat                                    agar mayatnya nanti dikafani dengan tiga lapis                                    kain kafan tanpa imamah (ikat kepala) dan tanpa                                    baju. Dan beliau berwasiat agar kain kafannya                                    berwarna putih. Semua wasiat beliau itu dilaksanakan                                    dengan baik oleh kerabat beliau yang merawat                                    jenasahnya. Beliau dikuburkan di desa itu di                                    hari Iedul Fitri 1 Syawal 256 H setelah shalat                                    Dhuhur. Dan seketika selesai pemakamannya, tersebarlah                                    bau harum dari kuburnya dan terus semerbak bau                                    harum itu sampai berhari-hari.<br />
Gubernur Bukhara Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhli                                    menuai hasil dari kedhalimannya dengan datangnya                                    keputusan pencopotan terhadap jabatannya dari                                    Khalifah Al-Muktamad karena tuduhan ikut terlibat                                    pemberontakan Ya’qub bin Al-Laits terhadap                                    Khilafah Ath-Thahir. Khalid bin Ahmad akhirnya                                    dipenjarakan di Baghdad sampai mati di penjara                                    pada tahun 269 H. Sedangkan Huraits bin Abil                                    Waraqa’ ditimpa kehancuran pada anak-anaknya                                    yang berbuat tidak senonoh. Para penentang Imam                                    Bukhari menyatakan penyesalannya dan kesedihannya                                    dengan wafatnya beliau dan sebagian mereka sempat                                    mendatangi kuburnya.<br />
Mulailah setelah itu orang berani menyebarkan                                    pembelaan Al-Imam Al-Bukhari dari segala tuduhan                                    miring terhadap dirinya. Tetapi berbagai pembelaan                                    itu selama ini tenggelam dalam hiruk pikuk fitnah                                    tuduhan keji terhadap diri beliau. Dan Allah                                    Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Muhammad bin Nasir Al-Marwazi mempersaksikan                                    bahwa Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail                                    Al-Bukhari menyatakan: “Barangsiapa yang                                    mengatakan bahwa aku telah berpendapat bahwa                                    lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah                                    makhluk, maka sungguh dia adalah pendusta, karena                                    sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan demikian.”<br />
Abu Amr Ahmad bin Nasir An-Naisaburi Al-Khaffaf                                    mempersaksikan bahwa Al-Imam Al-Bukhari telah                                    mengatakan kepadanya: “Wahai Abu Amir,                                    hafal baik-baik apa yang aku ucapkan: Siapa                                    yang menyangka bahwa aku berpendapat bahwa lafadhku                                    tentang Al-Qur’an adalah makhluk, baik                                    dia dari penduduk Naisabur, Qaumis, Ar-Roy,                                    Hamadzan, Hulwan, Baghdad, Kuffah, Basrah, Makkah,                                    atau Madinah, maka ketahuilah bahwa yang menyangka                                    aku demikian itu adalah pendusta. Karena sesungguhnya                                    aku tidaklah mengatakan demikian. Hanya saja                                    aku mengatakan: Segenap perbuatan hamba Allah                                    itu adalah makhluk.”<br />
Yahya bin Said mengatakan: “Abu Abdillah                                    Al-Bukhari telah berkata: Gerak-gerik hamba                                    Allah, suara mereka, tingkah laku mereka, segala                                    tulisan mereka adalah makhluk. Adapun Al-Qur’an                                    yang dibaca dengan suara huruf-huruf tertentu,                                    yang ditulis di lembaran-lembaran penulisan                                    Al-Qur’an, yang dihafal di hati para penghafalnya,                                    maka semua itu adlaah kalamullah (perkataan                                    Allah) dan bukan makhluk.”</p>
<p>Ghunjar membawakan riwayat dengan sanadnya                                    sampai ke Al-Firabri, dia mengatakan bahwa Al-Bukhari                                    telah mengatakan: “Al-Qur’an kalamullah                                    dan bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan                                    bahwa Al-Qur’an itu makhluk maka sungguh                                    dia telah kafir.” Bahkan Al-Imam Al-Bukhari                                    menulis kitab khusus dalam masalah ini dengan                                    judul Khalqu Af`alil Ibad yang padanya beliau                                    menjelaskan pendirian beliau dalam masalah ini                                    dengan gamblang dan jelas serta lengkap dan                                    ilmiah.</p>
<p>Fitnah itu memang kejam, lebih kejam dari                                    pembunuhan. Dia tidak akan memilih antara orang                                    jahil atau orang alim dari kalangan ulama. Dan                                    ulama pun bisa salah dalam memberikan penilaian,                                    karena yang ma’shum (terjaga dari kesalahan)                                    hanyalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.                                    Orang-orang yang menyakini bahwa ulama itu ma’shum                                    hanyalah para ahli bid’ah dari kalangan                                    Rafidlah (Syiah) atau orang-orang sufi. Demikian                                    pula orang-orang yang mencerca ulama karena                                    kesalahannya semata tanpa mempertimbangkan apakah                                    kesalahan itu karena kesalahan ijtihad ataukah                                    kesalahan prinsip yang tak termaafkan, yang                                    demikian ini adalah sikap sufaha’ (orang-orang                                    dungu) semacm sururiyyun (pengikut Muhammad                                    bin Surur) atau haddadiyyun (pengikut Mahmud                                    Al-Haddad). Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak menganggap                                    para ulama itu ma’shum dan tidak pula                                    melecehkan ulama ketika mendapati kesalahan                                    mereka. Dengan prinsip inilah kita tetap memuliakan                                    Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Dan                                    juga kita memuliakan Al-Imam Muhammad bin Yahya                                    Adz-Dzuhli. Kita mendoakan rahmat Allah bagi                                    para imam-imam tersebut. Dan kita memahami segala                                    perselisihan di kalangan mereka dengan ilmu                                    Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengerti                                    mana yang benar untuk kita ikuti dan mana yang                                    salah untuk kita tinggalkan.</p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jamaah itu berkata dan berbuat                                    dengan bersandarkan kepada ilmu. Adalah bukan                                    akhlak Ahlus Sunnah wal Jamaah bila segerombolan                                    orang berbuat hura-hura dan kemudian menvonis                                    seseorang atau sekelompok orang. Tertapi ketika                                    ditanyai, apa dasar kamu berbuat demikian? Jawabannya:                                    Kami masih menunggu fatwa dari ulama!<br />
Kita katakan kepada mereka ini: “Apalagi                                    yang kalian tunggu dari ulama setelah kalian                                    berbuat, menvonis dan menilai? Apakah kalian                                    berbuat dulu baru mencari pembenaran terhadap                                    perbuatan kalian dengan fatwa ulama? Kalau begitu                                    yang kalian tunggu adalah fatwa pembenaran dari                                    ulama terhadap perbuatan kalian. tentu yang                                    demikian ini bukanlah akhlak Ahlus Sunnah wal                                    Jamaah.</p>
<p>Gubernur Bukhara Khalid bin Ahmad As-Sadusi                                    dan mufti negeri Bukhara Huraits bin Abil Waraqa’                                    telah menyimpan ketidaksenangan kepada Al-Imam                                    Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dan berencana                                    untuk mengusirnya dari negeri Bukhara. Ketika                                    sedang mencari-cari alasan pembenaran terhadap                                    perbuatannya tiba-tiba datang surat dari Al-Imam                                    Muhammad bin yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur                                    yang memperingatkan sang gubernur dari bahaya                                    bid’ah yang dibawa oleh Al-Imam Al-Bukhari.                                    Surat ini seperti kata pepatah: pucuk dicita                                    ulam tiba. Tanpa selidik dan tanpa teliti, segera                                    surat ini dibacakan di hadapan penduduk Bukhara                                    dan setelah itu datanglah keputusan pengusiran                                    Al-Bukhari dari negeri kelahirannya, sehingga                                    yang diharapkan, kesan orang bahwa pengusiran                                    itu karena semata-mata alasan agama dan bukan                                    alasan yang lainnya.</p>
<p>Tetapi Allah Maha Tahu dan Dia membongkar                                    segala kejahatan di balik alasan-alasan yang                                    memakai atribut agama itu. Sehingga yang tertulis                                    dalam sejarah Islam sampai hari ini adalah kesan                                    buruk terhadap perbuatan Khalid bin Ahmad As-Sadusi                                    dan Huraits bin Abil Waraqa’. Dan bukan                                    kesan buruk yang dibikin-bikin oleh para pencoleng                                    fatwa ulama itu. Camkanlah! Pengkhianatan dan                                    kedustaan itu berulang-ulang terus dari masa                                    ke masa. Hanya saja pemainnya yang berganti-ganti.                                    Tetapi semua itu akan menjadi sejarah bagi anak                                    cucu di belakang hari sebagaimana sejarah pengkhianatan                                    dan kedustaan terhadap Al-Imam Al-Bukhari yang                                    sekarang menjadi pergunjingan bagi generasi                                    ini.</p>
<p><b>DAFTAR PUSTAKA</b><br />
1). Al-Qur’anul Karim<br />
2). At-Tarikhul Kabir, Al-Imam Abu Abdillah                                    Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Darul Fikr,                                    tanpa tahun.<br />
3). Kitabuts Tsiqat, Al-Imam Muhammad bin Hibban                                    bin Ahmad bin Abi Hatim At-Tamimi Al-Busti,                                    darul Fikr, th. 1393 H / 1993 M.<br />
4). Kitabul Jarh wat Ta`dil, Al-Imam Abi Muhammad                                    Abdurrahman bin Abi Hatim At-Tamimi Al-Handlali                                    Ar-Razi, darul Fikr, tanpa tahun.<br />
5). Khalqu Af’alil Ibad, Al-Imam Abu Abdillah                                    Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Muassasatur                                    Risalah, th. 1411 H / 1990 M.<br />
6). Tarikh Baghdad, Al-Imam Abi Bakr Ahmad bin                                    Ali Al-Khatib Al-Baghdadi, Darul Fikr, tanpa                                    tahun.<br />
7). Al-Ikmal, Al-Amir Al-Hafidh Ali bin Hibatullah                                    Abi Naser bin Makula, Darul Kutub Al-Ilmiah,                                    th. 1411 H / 1990 M.<br />
8). Thabaqatul Hanabilah, Al-Qadli Abul Husain                                    Muhammad bin Abi Ya’la, Darul Ma’rifah,                                    Beirut, Libanon, tanpa tahun.<br />
9). Rijal Shahih Al-Bukhari, Al-Imam Abu Naser                                    Ahmad bin Muhammad bin Al-Husain Al-Bukhari                                    Al-Kalabadzi, Darul Baaz, th. 1407 H / 1987                                    M.<br />
10). Al-Kamil fit Tarikh, Al-Allamah Ibnu Atsir,                                    Darul Fikr, tanpa tahun.<br />
11). Tahdzibul Kamal, Al-Hafidh Abil Hajjaj                                    Yusuf Al-Mizzi, Muassasatur Risalah, th. 1413                                    H / 1992 M.<br />
12). Kitab Tadzkratul Huffadl, Al-Imam Abu Abdillah                                    Syamsuddin Muhammad Adz-Dzahabi, Darul Kutub                                    Al-Ilmiah, tanpa tahun.<br />
13). Siyar A`lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin                                    Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, Muassasatur                                    Risalah, th. 1417 H / 1996 M.<br />
14). Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Hafidh Abul                                    Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Darul Kutub                                    Al-Ilmiyah, th. 1408 H / 1988 M.<br />
15). Hadyus Sari Muqaddimah Fathul Bari, Al-Imam                                    Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani,                                    Al-Maktabah As-Salafiyah, tanpa tahun.<br />
16). Qaidah fi Jarh wat Ta’dil, Al-Imam                                    Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali As-Subki, Al-Maktabah                                    Al-Ilmiah, Lahore, Pakistan, th. 1403 H / 1983                                    M.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwatunia.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwatunia.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwatunia.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwatunia.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwatunia.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwatunia.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwatunia.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwatunia.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwatunia.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwatunia.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwatunia.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwatunia.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwatunia.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwatunia.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwatunia.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwatunia.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwatunia.wordpress.com&amp;blog=2920428&amp;post=4&amp;subd=alwatunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwatunia.wordpress.com/2008/02/21/muhammad-bin-ismail-al-bukhori-imam-ahlul-hadits-yang-ditinggalkan-umatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2c499f104f8158eb64c172f9f898d1d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">alwatunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://alwatunia.wordpress.com/2008/02/20/hello-world/</link>
		<comments>http://alwatunia.wordpress.com/2008/02/20/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 03:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alwatunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwatunia.wordpress.com&amp;blog=2920428&amp;post=1&amp;subd=alwatunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwatunia.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwatunia.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwatunia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwatunia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwatunia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwatunia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwatunia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwatunia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwatunia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwatunia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwatunia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwatunia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwatunia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwatunia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwatunia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwatunia.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwatunia.wordpress.com&amp;blog=2920428&amp;post=1&amp;subd=alwatunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwatunia.wordpress.com/2008/02/20/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f2c499f104f8158eb64c172f9f898d1d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">alwatunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
